Mensyukuri Kenikmatan Allah Ta’ala

Kitab Bulughul Maram (Bab Jami')

0

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ ‏ ‏أَجْدَرُ ‏ ‏أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه عليكم

“Lihatlah kepada yang dibawah kalian, dan jangan lihat kepada yang diatas kalian, maka itu akan membuat diri kalian tidak meremehkan kenikmatan Allah kepada kalian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma)

Syukur adalah balasan terbaik seorang hamba didalam kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Namun kadang sangat susah merealisasikannya. Oleh karenanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan panduan dalam hadits diatas bagaimana cara mensyukuri kenikmatan Allah Ta’ala.

انظروا الى من هو أسفل منكم

Lihatlah kepada siapa yang dibawah kalian, maksudnya didalam nikmat agama atau nikmat dunia, bagaimana ini ?

Dalam agama, misalnya ada orang yang keimanannya dibawah dirinya, maka dia mengatakan “Alhamdulillah yang telah memberikan kepada dirinya hidayah Islam dan sunnah.”

Adapun dalam dunia, sangat jelas, Allah Ta’ala tidak pernah menjadi dua insan memiliki sesuatu yang sama persis, walaupun sangat mirip. Maka ketika Allah Ta’ala memberikan kepada kita sebuah kenikmatan, kita melihat siapa yang lebih kurang dari kita, sehingga terdorong untuk bersyukur.

فهو أجدر الا تزدروا نعمة الله عليكم

Sangat jelas, bahwa dengan sebab kita melihat kebawah, kita tidak mudah meremehkan kenikmatan Allah Ta’ala.

 

Hadits di atas memiliki beberapa faedah :

  1. Indahnya anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada kita dalam merealisasikan syukur, yang kadang sangat berat.
  2. Metode dalam pendidikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau menjelaskan sebuah hukum, kemudian beliau menjelskan sebabnya. Sangat bagus untuk dicontoh, sehingga tidak membiarkan orang lain bingung dalam memahami sebuah masalah.
  3. Ketenangan hidup akan terealisasi dengan Qana’ah dan merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala. Berapapun yang kita dapatkan itulah ketentuan Allah Ta’ala yang terbaik kepada kita.
  4. Tingkatan keadaan manusia di dunia ini, yang bukan dalam satu tingkatan. Melainkan berbeda-beda sebagai ketentuan Allah Ta’ala yang penuh dengan hikmah.
  5. Larangan serta celaan sombong dan meremehkan kenikmatan Allah Ta’ala. Kalau kita melihat ke tubuh kita, niscaya dia akan mendapatkan bahwa dirinya sangat penuh dengan kekayaan. Namun pandangan manusia tentang nikmat hanya tertuju kepada materi, dan ini adalah kekeliruan yang sangat nyata.

 

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita kekuatan untuk bersyukur dengan kenikmatan Allah.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Lihat Syarh Riyadhus Shalihin Syaikh Ibnu Utsaimin dan Taudihul Ahkam.

 

Penulisan : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.