Sifat Wudhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam (Bagian 2)

321

Setelah kita mengetahui beberapa keutamaan berwudhu, dan anjuran untuk selalu membarui wudhu, Insya Allah akan kita sambung dalam pembahasan tata cara berwudhu sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kebanyakan ulama dalam membahas tata cara wudhu, mengacu kepada sebuah ayat dan satu hadits.

Ayat yang dimaksud adalah dalam Surat Al-Maidah : 6

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah  wajahmu dan kedua tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Adapun dalam hadits, maka itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Humran Maula Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Untuk melengkapi faedah, akan saya nukilkan dengan sempurna hadits tersebut, kemudian akan kita jelaskan bagian demi bagian dalam tata cara tersebut.

Berikut teks haditsnya :

Humran Maula Ustman bin Affan bercerita dari Ustman bin Affan,

دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ». ثُمَّ قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا» ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Bahwasanya Ustman pernah meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu,beliau  mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air kehidung dan mengeluarkannya, lalu mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci tangan kanannya sampai siku tiga kali, lalu mencuci tangan kirinya seperti itu, lalu beliau mengusap kepalanya dan mencuci kaki kanannya sampai kedua mata kakinya tiga kali, kemudian mencuci kaki kirinya seperti kaki kanannya.”

Lalu beliau berkata,

“Sungguh aku meilhat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti berwudhunya aku”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

“Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhunya aku kemudian berdiri shalat dua rakaat, dan tidak mengucapkan hal yang tidak baik, maka Allah akan memberikan ampunan baginya atas dosa yang telah dia lakukan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk memudahkan kita mempelajari bab wudhu, akan kami jelaskan secara berurutan dalam melakukan tata cara berwudhu.

Pertama :

TASMIYYAH SEBELUM BERWUDHU

Tasmiyyah adalah membaca “BISMILLAH”

Sedangkan basmalah adalah membaca “BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM”

Dua hal yang perlu dibedakan dalam istilah.

Hukum membaca tasmiyyah ketika akan berwudhu.

Tasmiyyah sendiri tidak disebutkan dalam hadits Humran diatas, juga tidak pula di hadits-hadist yang lain yang menjelaskan sifat wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun ada beberapa hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tasmiyyah sebelum berwudhu. Diantaranya,

لا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah atasnya.” (HR At-Tirmidzi dan selainnya)

Namun hadits diatas terjadi perselisihan dikalangan ulama tentang kesahihannya, yang ber efek perbedaan ulama tentang hukum membaca tasmiyyah sebelum berwudhu.

Mayoritas ulama, termasuk  didalamnya Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik dan As- Syafi’i rahimahullah, mereka berpendapat hukumnya sunnah.

Sedangkan Al-Imam Ahmad dalam satu riwayat dan juga Ishaq bin Rahaweh mengatakan wajib, beliau berdalilkan dengan hadits diatas, bahwa tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah, maka ini memberikan makna wajib.

Adapun mayoritas ulama yang mengatakan sunnah berdalilkan dengan beberapa Hal :

  1. Hadits yang dijadikan dalil oleh Al-Imam Ahmad untuk mengatakan wajib adalah dalil yang lemah. Telah dilemahkan oleh beberapa ulama diantaranya Al-Imam Al-Baihaqi, Al- Imam An-Nawawi selain keduanya, sehingga tidak bisa dijadikan dasar dalam hal ini.
  2. Seandainya hadits yang dijadikan dalil untuk mengatakan wajib tersebut sahih, maka maknanya adalah tidak ada wudhu yang sempurna, bagi yang tidak membaca tasmiyyah, sehingga tidak bisa ditarik kepada hukum wajib.
  3. Dalam penjelasan ayat, dan juga hadits yang menceritakan wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak disebutkan tasmiyyah, sehingga untuk dikatakan wajib sangat tidak mungkin.

LANTAS JIKA TIDAK DISEBUTKAN DALAM AYAT ATAUPUN HADITS, KENAPA DIHUKUMI SUNNAH ?

Mayoritas ulama menjawab :

  1. Mencontoh apa yang ada dalam ayat Al-Quran, yang mana setiap surat selain surat At-Taubah telah disebutkan diawalnya dengan basmalah.
  2. Begitu juga dengan surat-surat Rasulullah yang selalu dimulai dengan tasmiyyah sebelum ditulisnya surat tersebut, menunjukkan bahwa itu adalah hal yang baik.
  3. Al-Imam Al-Bukhari, (dan beliau juga berpendapat sunnahnya membaca tasmiyyah) menyebutkan dalam sahihnya bab:

التسمية على كل شيئ  و عند الوقوع

Bab : At-Tasmiyyah dalam segala sesuatu, dan ketika akan berhubungan badan dengan istrinya

Kemudian beliau membawakan hadits Abdullah bin Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

“Jika kalian mendatangi keluarga kalian, kemudian mambaca : “BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBNAS SYAITHAN, WA JANNIBIS SYAITHAN MAA RAZAQTANA… Selesai.”

Sehingga dari semua penjelasan diatas, memberikan kesimpulan, bahwa membaca basmalah itu disunnahkan sebelum seorang berwudhu.

 

Wallahu A’lam Bishawab

 

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.