Mengetahui Hakikat Jiwa

0

Diantara keharusan dalam menyucikan jiwa adalah mengetahui hakikat jiwa, mengetahui sifat-sifatnya agar mudah melindungi, menjaga dan mengobatinya dari penyakit yang masuk kedalamnya.

 

Allah ‘azza wajalla mensifatkan jiwa manusia dalam alqur’an alkarim dengan 3 sifat yang telah diketahui. 3 sifat itu adalah:

 

An Nafs Al mutmainnah

Yaitu jiwa yang tenang dengan keimanan, mengingat Allah, beribadah dan kembali kepada Allah ta’ala.

 

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ

الْقُلُوبُ(28)

 

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ra’d:28)

 

An Nafs Allawwaamah

Yaitu jiwa yang mencela pemiliknya karena melakukan dosa atau meremehkan kewajiban dan ketaatan.

 

Firman Allah ta’ala :

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ(2)

 

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS Alqiyamah:2)

 

An Nafs Al ammaarah bis su’i

Yaitu jiwa yang menghasung pemiliknyauntuk melakukan dosa dan menuntunnya kepada tempat-tempat yang mungkar serta mendorongnya untuk melakukan kejelekan dan keburukan.

 

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

 

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ …(53)

 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.QS- yusuf :53)

 

Maka 3 sifat ini pada hakikatnya adalah keadaan- keadaan yang berkaitan dengan jiwa, oleh karena itu keadaan-keadaan ini bisa berubah-rubah sesuai yang diinginkan oleh jiwa manusia dan terkadang terkumpul sifat-sifat ini pada manusia pada saat yang sama sesuai dengan keadaan jiwa itu sendiri.

 

Para ulama telah membuat permisalan bagi jiwa yang menjelaskan keadaan jiwa manusia agar mudah difahami seseorang sehingga setelah itu dia bersungguh-sungguh memperbaiki dan mensucikan jiwanya.

 

Seperti permisalan yang dibuat oleh Imam Al-aajuri rahimahullahu tentang jiwa manusia, bahwa jiwa manusia seperti anak kuda yang membutuhkan latihan dan kesabaran dalam melatihnya dan latihan tersebut hendaknya ada pengilmuan dengan perkara yang memperbaiki dan menyucikan jiwa manusia dan jika manusia lalai dalam pengetahuan dan latihan ini maka sungguh dia akan menyesal.

 

(Lihat kitab ‘asyru qawaaid fii tazkiyatin nufus karya syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Albadr, Hal:37-43)

 

 

Team Fawaid Al Misk

Dimurojaah oleh Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.