Niat Dalam Shalat
Bagian Pertama :
Semua amalan tanpa terkecuali tergantung dengan niat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan tergantung dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu)
Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah,
الْأَعْمَالُ صَالِحَةٌ،أَوْ فَاسِدَةٌ، أَوْ مَقْبُولَةٌ، أَوْ مَرْدُودَةٌ، أَوْ مُثَابٌ عَلَيْهَا، أَوْ غَيْرُ مُثَابٍ عَلَيْهَا بِالنِّيَّاتِ، فَيَكُونُ خَبَرًا عَنْ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ، وَهُوَ أَنَّ صَلَاحَ الْأَعْمَالِ وَفَسَادَهَا بِحَسَبِ صَلَاحِ النِّيَّاتِ وَفَسَادِهَا
“Amalan itu baik atau buruk, diterima atau ditolak, apakah mendapatkan pahala ataukah tidak, itu semua kembali kepada niat. Sehingga hadits diatas sebagai berita tentang hukum syar’i yaitu baiknya amalan dan jeleknya sesuai dengan baiknya niat dan jeleknya niat.” (Jami Ulum Wal Hikam penjelasan Hadist Ke Satu)
Maka seorang muslim sebelum memulai semua amalan tanpa terkecuali shalat harus memperbaiki niatnya. Oleh karenanya para ulama menjadikan niat adalah syarat diterimanya amalan, bahkan mereka menukil Ijma dalam masalah ini.
Berkata Al Imam Ibnul Mundzir rahimahullah,
“Telah sepakat setiap yang kami ketahui dari ulama, bahwa shalat tidak sah kecuali dengan niat.” (Al Aushat : 3/71)
Begitu juga Al-Imam An-Nawawi dalam Al Majmu : 3/241 dan selainnya dari kalangan ulama.
APAKAH NIAT DILAFADZKAN ?
Pertama yang harus diketahui bahwa niat maknanya adalah keinginan dan keinginan seseorang tempatnya di dalam hati. Seandainya terjadi perbedaan antara perbuatan dan lafadz dengan niat yang di dalam hati, maka yang dijadikan dasar adalah apa yang ada dialam hati.
Namun haruskah dilafadzkan ?
Berikut kami nukilkan beberapa ucapan para Ulama dalam masalah ini.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,
الحمد لله، أما الذي أنكر عليه إسراره بالنية فهو جاهل فإن الجهر بالنية لا يجب ولا يستحب لا في مذهب أبي حنيفة ولاأحد من أئمة المسلمين؛ بل كلهم متفقون على أنه لا يشرع الجهر بالنية ومن جهر بالنية فهو مخطئ مخالف للسنة باتفاق أئمة الدين؛ بل مذهب أبي حنيفة ومالك والشافعي وأحمد وسائر أئمة المسلمين أنه إذا نوى بقلبه ولم يتكلم بلسانه بالنية لا سرا ولا جهرا كانت صحيحة ولا يجب التكلم بالنية. لا عند أبي حنيفة ولا عند أحد من الأئمة حتى أن بعض متأخري أصحاب الشافعي لما ذكر وجها مخرجا: أن اللفظ بالنية لا واجب. غلطه بقية أصحابه وقالوا: إنما أوجب الشافعي النطق في أول الصلاة بالتكبير لا بالنية. وأما أبو حنيفة وأصحابه فلم يتنازعوا في أن النطق بالنية لا يجب وكذلك مالك وأصحابه وأحمد وأصحابه
“Segala puji milik Allah, adapun yang mengingkari orang yang tidak mengeraskan niat, dia adalah orang yang tidak mengetahui ilmu agama. Karena mengeraskan niat itu tidak wajib bahkan tidak sunnah, baik dalam Madzhab Abu Hanifah, ataupun seorangpun dari ulama Islam. Bahkan semua sepakat bahwa tidak disyariatkan mengereskan dengan niat dan siapa yang mengeraskan niatnya maka dia keliru dan telah menyelisihi sunnah dengan kesepakatan ulama. Bahkan Madzhabnya Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad, dan semua ulama Islam, bahwa seorang yang telah meniatkan sesuatu dengan hatinya, dan tidak melafadzkan dengan lisannya, maka ibadahnya sahih dengan kesepakatan mereka dan tidak wajib melafdazkan niat, baik menurut Madzhab Abu Hanifah atau seorangpun dari kalangan ulama. Bahkan ketika ada sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa melafadzkan niat itu tidak wajib, mereka diingkari oleh ulama Syafi’iyyah lainnya. Dan mereka mengatakan, bahwa Al-Imam Syafi’i mewajibkan untuk membaca ketika akan shalat dengan Takbiratul Ihram, bukan dengan mengeraskan bacaan niat. Adapun Madzhab Hanafiyyah, tidak ada perselisihan diantara mereka tentang masalah ini.” (Majmu : 22/246)
Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,
كان صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة قال ” الله أكبر ” ولم يقل شيئا قبلها، ولا تلفظ بالنية البتة، ولا قال أصلي لله صلاة كذا مستقبل القبلة أربع ركعات إماما أو مأموما، ولا قال أداء ولا قضاء
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika berdiri untuk melakukan shalat, beliau membaca : “Allahu Akbar.” Beliau tidak membaca apapun sebelumnya, ataupun melafadzkan niat. Beliau juga tidak mengatakan “Ushalli Lillah Shalat Kadza..Mustaqbilal Qiblah Arba Rakaat Imaman Au Makmuman, dan beliau juga tidak mengatakan Adaaan atau Qadhaan.” (Zadul Maadz : 1/201)
Dengan penjelasan di atas, maka jelas bahwa hukum niat dalam shalat adalah wajib, bahkan syarat sahnya shalat. Namun melafadzkannya adalah sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.
Wallahu A’lam
Bagian Kedua :
Masalah yang sering ditanyakan adalah, apakah boleh merubah niat dari satu shalat dan shalat yang lainnya?
Sebuah penjelasan yang bagus dari Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah dalam masalah ini kamu nukilkan karena sangat bagus penjelasannya, beliau ditanya tentang merubah niat dalam shalat.
Beliau Menjawab :
Merubuah niat itu memiliki beberapa keadaan
- MERUBAH NIAT AMALAN MU’AYYAN KE AMALAN MU’AYYAN TIDAK DIPERBOLEHKAN
Amalan Mu’ayyan adalah amalan yang dia niatkan diawal ibadah untuk melakukan ibadah tertentu, misalnya untuk shalat ashar. Jika seseorang mulai shalat dengan niat ashar, kemudian dia ingat kalau dirinya belum shalat dhuhur, maka tidak boleh baginya untuk merubah niat shalat ashar yang sedang dia lakukan dengan niat shalat dhuhur. Ini yang dimaksud amalan mu’ayyan ke amalan mu’ayyan, yaitu dari niat shalat ashar ke niat shalat dhuhur.
- MERUBAH NIAT AMALAN MUTHLAQ KE MU’AYYAN
Amalan muthlaq adalam amalan suatu ibadah yang tidak diniatkan dengannya ibadah tertentu. Contoh seorang melakukan shalat sunah muthlaq (umum) lalu dia teringat kalau dirinya belum shalat dhuha, apakah boleh dia merubah niat di dalam ibadah tersebut dari niat amalan muthlaq ke niat amalam mu’ayyan (jelas) yaitu niat shalat dhuha?
Jawabannya tidak boleh.
- MERUBAH NIAT AMALAN MU’AYYAN KE MUTHLAQ
Merubah niat amalan mu’ayyan ke muthlaq dibolehkan oleh ulama. Sebagai contoh, seorang sedang melakukan shalat dhuha, kemudian dia ingat kalau dirinya sudah melakukan shalat dhuha, kemudian dia ingin merubah niat menjadi shalat sunnah muthlaq. Apakah ini dibolehkan ? Jawabannya boleh.
Berarti ada tiga keadaan :
- Merubah niat dari amalan mu’ayyan ke mu’ayyan : Tidak Boleh
- Merubah niat dari amalan muthlaq ke mu’ayyan : Tidak Boleh
- Merubah niat dari amalan mu’ayyan ke muthlaq : Boleh
Demikian perincian yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dengan sedikit tambahan semoga bermanfaat untuk semuanya. (Lihat Majmu Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin : 12 pertanyaan No. 348)
Wallahu A’lam Bishawab
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam