Biografi Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (Bagian 1)

664

Beliau bernama Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah.

Beliau di lahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara bagian barat Negara Uzbekistan saat ini.

Al-Mugirah masuk Islam melalui seorang dari Yaman Al-Ju’fy yang saat itu menjadi Wali Daerah Bukhara sehingga digelari dengan Maula Al-Ju’fy. Ayah beliau Ismail bin Ibrahim menuntut ilmu melalui para ulama besar, seperti Malik bin Anas dan selainnya. Namun ayahnya meninggal disaat usia masih kecil, sehingga beliau diasuh oleh ibunya. Beliau menuntut ilmu sejak kecil dengan didampingin oleh ibundanya, sehingga mampu menghafal Al-Quran diusia kecil dan menghafal hadits diusia belia. Al-Imam Al-Lalika’i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh. (Lihat Hadyu Sari Muqaddimah Fathul Bary , hal. 640)

Beliau menjadi seorang ulama besar dizamannya baik dalam ilmu hadits atau ilmu lainnya. Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan, “Aku telah duduk bersama para ahli fikih, ahli zuhud, dan ahli ibadah. Aku belum pernah melihat semenjak aku bisa berpikir ada seorang manusia yang seperti Muhammad bin Isma’il. Dia di masanya seperti halnya Umar di kalangan para sahabat, Allah Ta’ala telah memberikan ilmu dan keberkahan kepada Al-Imam Al-Bukhari, sehingga beliau memiliki karangan buku yang sangat banyak, diantaranya adalah At-Tarikh Al-Kabir, Al-Adabul Mufrad, Khalqu Afalil Ibad, dan yang paling bagus dari semua karya beliau adalah kitab yang dikenal dengan nama Sahih Bukhari, yang ulama telah sepakat sebagai buku yang paling sahih setelah Al-Quranul Karim.

Sebuah ujian yang diberikan kepada beliau menunjukkan kekuatan hafalan Al-Imam Al-Bukhari. Suatu ketika Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad, para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau

Suatu hal yang biasa jika Al-Imam Al-Bukhari menghafal 100 hadist dengan sanadnya, namun yang ajaib adalah beliau mampu menghafal sanad yang mereka balikkan dengan sekali dengar. Rahimahullah Rahmatan Waasi’aa

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah wafat di daerah Khartank, sebuah negeri yang terletak dekat dari Samarkand pada malam Idul Fitri tahun 256 H pada usia 62 tahun kurang tiga belas hari.

Semoga Allah memberikan kekuatan kipada kita untuk mempelajari ilmu yang beliau tingalkan kepada kita semua, Amin Ya Rabbal Alamin.

 

 

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.