Aqidah Al-Imam Al-Bukhari (Bagian 3)

181

Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, setelah menyebutkan sederetan ulama yang beliau mengambil ilmu darinya :

“DAN AKU TIDAK MENGETAHUI SEORANGPUN DARI MEREKA BERSELISIH DALAM PERKARA DIBAWAH INI”

 

Ucapan diatas sebagai bukti bahwa Al-Imam Al-Bukhari adalah seorang muhaqqiq (ahli dalam membahas suatu masalah). Bukan orang yang biasa saja dalam menjabarkan permasalahan aqidah.

 

Juga menunjukan kepada kita bagaimana dalamnya ilmu salaf (ulama dahulu) dibandingkan dengan ilmu ulama zaman setelahnya, mereka tidak hanya berjalan mengelilingi dunia untuk mengambil dari ulama Islam, namun mereka mempelajari dari mereka dengan kuat dan kokoh.

 

Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan oleh ulama,

“ULAMA SALAF A’LAM DAN AHKAM (lebih tahu dan lebih bijaksana. Dan disinilah muncul kaidah “LAU KAANA KHAIRAN MA SABAQUUNA ILAHI” (seandainya itu baik, maka mereka ulama terdahulu akan mendahului kita dalam kebaikan tersebut).”

 

Ucapan Al-Imam Al-Bukhari juga menjelaskan kepada kita, bahwa apa yang akan beliau sebutkan semuanya di dalam aqidah beliau adalah perkara yang telah disepakati oleh ulama, sehingga siapapun yang menukil aqidah yang tidak sesuai atau bertentangan dengan apa yang beliau tuliskan disini, maka aqidah tersebut aqidah yang menyelisihi ijma’ ulama.

 

  1. IMAN ADALAH UCAPAN DAN PERBUATAN

 

Al-Imam Al-Bukhari memulai menyebutkan aqidahnya dengan pembahasan tentang makna agama.

Agama yang dimaksud adalah iman, dan yang dimaksud dengan ucapan adalah ucapan hati dan lisan, dan yang dimaksud dengan perbuatan, adalah perbuatan hati, lisan dan anggota badan, demikian yang ditafsirkan oleh Al-Imam Al-Ismailiy didalam kitab beliau I’tiqad Aimatil Hadits.

Sehingga dengan bahasa yang lebih mudah untuk difahami, bahwa Iman adalah :

“MENYAKINI DENGAN HATI,

MENGUCAPKAN DENGAN LISAN,

MENGAMALKAN DENGAN ANGGOTA BADAN”.

 

Tidak cukup dengan keyakinan hati, atau hanya dengan melafadzkan keislamannya sampai membuktikan semuanya dengan amalan anggota badan.

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian bagian, yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah membuang kotoran dijalan, dan rasa malu bagian dari keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadikan ucapan dan amalan bagian dari keimanan. Dan begitulah yang diajarkan Beliau kepada para sahabatnya.

 

Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

“Kesabaran bagian dari keimanan, ibarat kepala terhadap badan. Siapa yang tidak memiliki kesabaran, maka dia tidak memiliki keimanan.”

 

Berkata Al-Imam Waki bin Jarrah,

“Ahlus sunnah mengatakan, iman itu ucapan dan amalan.” (Lihat Syarh Usul I’tiqad karya Al Lalikai).

 

Hal diatas juga yang telah dinyatakan oleh Imam Madzahib.

 

Berkata Al-Imam Malik rahimahullah,

“Iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (Al Intiqa : 33)

 

Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah juga berkata,

“Iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” (Lihat Manaqib As-Syafi’i 1/387)

 

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menukil keyakinan itu sebagai keyakinan ulama terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in.

 

  1. KELOMPOK YANG MENGINGKARI KEYAKINAN DIATAS

 

Sebuah kaidah yang disebutkan oleh ulama, bahwa siapa yang menyelisihi salah satu prinsip dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka mereka dikeluarkan dari golongan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Disana muncul beberapa kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam masalah ini.

 

  1. Al-Murjiah

Mereka menyakini bahwa iman cukup keyakinan dan perkataan, walaupun tidak ada pengamalan.

 

 

  1. Al-Karramiyyah

Mereka menyakini bahwa iman cukup melafadzkan dengan lisan saja, walaupun tidak menyakini dengan hati. Tentunya melazimkan bahwa orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul adalah seorang mukmin yang sempurna keimanannya.

 

  1. Al-Jabriyyah

Meyakini bahwa iman itu cukup menyakini dengan hati saja. Tentunya melazimkan bahwa Iblis sebagai seorang yang beriman, bahkan Yahudi juga demikian, dikarenakan mereka menyakini kebenaran dengan hatinya.

 

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan diri kita dari keyakinan sesat tersebut.

 

Wallahu A’lam Bishawab

 

 

Penulisan : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.