Tanggung jawab adalah ucapan yang mudah terlintas dilisan kita semua, namun realisasinya, tidak saya ataupun yang lainnya pasti butuh usaha, Tanpa terkecuali sang suami.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
“Dan kalian tunaikan janji kalian, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (QS .Al- Isra : 34)
Ketika kita mengikrarkan ijab kabul, itulah janji suci yang telah kita ikrarkan dan harus kita tunaikan karena akan diminta pertanggung jawaban.
Tentunya makna tanggung jawab sangatlah umum, dan akan kita sebutkan secara lengkap dengan skala bertahap, dikesempatan yang akan datang, namun mari kita simak kandungan tafsir ayat dibawah ini.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجارَةُ عَلَيْها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, diatasnya ada malaikat yang kejam dan bengis, mereka tidak pernah melanggar apa yang Allah perintahkan dan melakukan apa yang selalu diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
Dalam ayat diatas adalah sebuah informasi yang tersirat teguran sekaligus ancaman bagi yang melalaikan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.
Berkata Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya,
“Yaitu ajarkan sebagian kalian dengan sebagian lain apa yang dengannya kalian terjaga dari api neraka, dengan amalan yang itu adalah ketaatan kepada Allah. Dan ajarkan keluarga kalian dari amalan ketaatan yang dengannya mereka akan terhindar dari siksa neraka.” (selesai)
Al-Imam Ibnu Jarir membawa makna ayat diatas ke sebuah hal yang jarang kita memperhatikannya, yaitu : ta’lim, atau pendidikan, pengajaran kepada keluarga kita perkara yang menyelamatkan mereka dari api neraka jahannam.
Saudaraku..
Maukah kita dengan istri kita bersama menaiki surga Allah ?
Maukah kita dengan istri kita bermain dan menegak kenikmatan surga bersama ?
Maukah kita dengan istri kita duduk manis dengan senyum ceria diatas permadani surga ?
Pasti jawabnya “IYA”.
Tegakah kita kelak didalam surga, kemudian istri kita meronta menahan siksa neraka ?
Tegakah kita kelak di surga, kemudian istri kita menjerit kehausan sedang kita berminumkan anggur surga ?
Pati jawabannya “TIDAK”.
Oleh karenanya, mari kita didik istri kita dengan ilmu agama, persilahkan mereka untuk belajar ilmu agama, jika kita bisa mengajarkannya, maka itu yang paling utama, jika tidak jangan halangi mereka untuk menimba ilmu agama, walau engkau harus membantunya dalam pekerjaan kesehariannya, dan membiarkan mereka menghafal dan mendalami ilmu agama. Karena itu adalah nafkah rohani yang engkau berikan padanya, dan tentunya pasti ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEPADA MU PAHALA atas nafkah yang engkau berikan ini.
Wallahu A’lam Bishawab
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam