Iman dengan Takdir (Bagian 1)

0

Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah,

 

وأنَّ الخيرَ والشرَّ بقَدَرٍ، لقوله: ﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ  مِن شَرِّ مَا خَلَقَ﴾. ولقوله: ﴿وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾. ولقوله: ﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

 

“Bahwasanya kebaikan dan kejelekan itu semuanya sudah menjadi takdir Allah.”

 

Allah Ta’ala berfirman,

Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan apa yang Dia ciptakan.” (QS. Al-Falaq : 1-2)

 

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan.” (QS. As-Shaffat : 96)

 

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qomar : 49)

 

Penjelasan :

Iman dengan takdir adalah perkara yang menjadi salah satu rukun iman yang wajib diketahui oleh setiap muslim.

Al-Imam Al-Bukhari dalam menjelaskan prinsip ini menyebutkan tiga dalil dari ayat Al-Quran.

Pertama : dalam Surat Al-Falaq : 1-2

 

Dalam Surat Al-Falaq ini, beliau ingin menjelaskan kepada kita bahwa semua yang ada dialam dunia ini adalah dengan takdir dan ketentuan Allah, apakah itu berupa kebaikan atau kejelekan.

 

Berkata Al-Imam As-Sa’di rahimahullah,

 

وهذا يشمل جميع ما خلق الله، من إنس، وجن، وحيوانات، فيستعاذ بخالقها، من الشر الذي فيها

 

“Ini mencakup  semua makhluk yang Allah ciptakan, baik manusia, jin atau hewan. Maka seseorang berlindung dari itu semua dengan penciptanya, dari kejelekan yang ada didalamnya.” (Tafsir As-Sa’dy)

Artinya bahwa semua yang terjadi itu menjadi ketentuan Allah Ta’ala, dan Allah yang menciptakannya.

 

APAKAH KEJELEKAN BOLEH DISANDARKAN KEPADA ALLAH ?

 

Ungkapan : “kebaikan itu dari Allah, itu jelas. Namun apa yang dimaksud dengan kejelekan juga dari Allah ?”

Bukankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyatakan dalam sebuah doanya :

 

والشر ليس إليك

 

“Dan kejelekan bukan kepada dirimu.”

 

Jawaban :

 

  1. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kejelekan dalam takdir adalah kejelekan dinilai dari ketentuan yang terjadi, bukan dari asal takdir Allah Ta’ala, karena semua takdir Allah itu baik menurut Allah Ta’ala.

 

Sebagai contoh, seorang diuji dengan sakit. Menurut penilaian dirinya, bahwa sakit itu buruk, namun bagi Allah atas hamba tersebut adalah kebaikan, mendorong dirinya untuk bertaubat dan mengingat hakikat kehidupan.

 

  1. Sebagai bentuk adab yang baik, kita tidak menyandarkan kejelekan kepada Allah Ta’ala, walaupun Allah Ta’ala yang menciptakannya.

 

Allah Ta’ala berfirman menceritakan ucapan Nabi Ibrahim,

 

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

 

“Dan jika Aku sakit, maka Allah yang akan menyembuhkanku.” (QS. Al-Syuara : 80)

 

Disandarkan sakit yang itu adalah ketentuan Allah dan takdirnya kepada diri Nabi Ibrahim, bukan kepada Allah dan ini adalah adab yang baik.

 

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah,

 

الله خلق كل شيء الخير والشر، ولكن الشر لا ينسب إليه، لأنه خلق الشر لحكمة، فعاد بهذه الحكمة خيرا

 

“Allah menciptakan segala sesuatu, yang baik atau buruk. Namun kejelekan tidak boleh disandarkan kepada Allah, karena Allah menciptakan kejelekan dengan hikmah-Nya, sehingga menjadi sebuah kebaikan.” (Fatawa Ibnu Utsaimin)

 

Kesimpulan :

Semua yang terjadi dalam alam semesta adalah takdir Allah, apakah menurut kita baik atau buruk.

Namun sebagai bentuk adab seorang hamba, kita tidak boleh menisbahkan kejelekan kepada Allah Ta’ala.

 

Wallahu A’lam Bishawab

 

 

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.