Kecondongan Yang Dapat Mengantarkan Seseorang Kepada Hal-hal Yang Tercela

75

 

 

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu ta’ala berkata :

 

 

‎فإن الإنسان قد يعرف أن الحق مع غيره ومع هذا يجحد ذلك لحسده إياه، أو لطلب علوه عليه، أو لهوى النفس، ويحمله ذلك الهوى على أن يعتدي عليه ويرد ما يقول بكل طريق وهو في قلبه يعلم أن الحق معه

 

 

“Sesungguhnya manusia mengetahui perkara yang benar ada pada selain dirinya, akan tetapi bersamaan dengan hal ini, ia menentangnya dikarenakan hasad yang ada pada dirinya, atau dikarenakan ia mengharapkan manusia lain meninggikannya, atau karena hawa nafsunya. Maka ia membawa keinginan tersebut kepada hal yang melampaui batas dan ia menginginkan apa yang dikatakannya itu di terapkan. Padahal ia mengetahui di dalam hatinya, bahwa kebenaran ada pada orang tersebut”
(Majmu’ Al-Fatawa 7/191)

 

 

Dari faidah diatas kita dapat mengambil pelajaran bahwa hal tersebut termasuk jerat-jerat syaithan yang di lakukan untuk menyesatkan anak Adam dari kebenaran dan keta’atan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

 

 

Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah bahwasanya hawa adalah kecondongan akan suatu hal yang dapat mengantarkan seseorang kepada hal hal yang tercela
(Riyadhush Shalihin/521).

 

 

Allah mencela orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, hasad, dan sifat ujub. Sebagaimana di sebutkan di dalam Al-Qur’an  :

 

 

 

‎أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

 

 

 

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”
(Al-Jatsiyah : 23).

 

 

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dahulu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Subhanallahu Wata’ala dari mengikuti hawa nafsu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi Rahimahullah dengan sanad yang sahih

 

 

Dari Qutbah bin Malik Radhiallu ‘Anhu, ia berkata :

 

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam senantiasa berdo’a dengan kalimat ini

 

 

اللهم جنبني منكرات الأخلاق و الأعمال والأهواء والأدواء

 

 

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang jelek

 

Dan hasad secara syari’at dan secara akal adalah perkara yang tercela. Tidak ada yang mempunyai sifat ini kecuali yang mempunyai perangai rendah
(nasihat linnisa/213)

 

 

Terdapat obat dan cara menjaga diri dari sifat hasad,  sebagaimana disebutkan di dalam penjelasan dalam adab Hamalatul Al-Qur’an oleh Imam An-Nawawi Rahimahullah  :

 

Dengan mengetahui bahwa hikmah Allah subhannallahu wata’ala sudah menjadi keharusan dan ini adalah sebuah keutamaan. Sehingga jika mengetahui hal ini maka kita tidak akan merasa berat dan benci akan hikmah yang di tetapkan oleh Allahu Ta’ala.
( LihatTsamarul Bustan : 132 )

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: Team Fawaid Al Misk

Dimurojaah oleh: Ustadz Imam Abu Abdillah

Artikel: https://almisk.or.id

____

BERSAMA MENUJU SURGA

GROUP KAJIAN ISLAM AL MISK

Untuk Join Group ketik:

#LK/PR#Nama#Alamat#Umur#NoHP

SMS/WA : +6285338107669

*****

Donasikan infaq terbaik anda di : BNI Syariah 800440000 a/n YAYASAN AL MISK untuk Program Pendidikan Al Misk

Donasi Terbaik Anda akan digunakan untuk keperluan Operasional Kajian Ummahat Al Misk dan WAG Al Misk serta Persiapan pembebasan Wakaf Tanah Al Misk

Lihat Update Donasi setiap bulannya di : www.almisk.or.id

untuk konfirmasi donasi : SMS/WA : 0811 688 1515 ( Cut Dewi Ummu Muhammad ) atau 085836677889 (Vivie)

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.