Hukum Bersedekap Dalam Shalat
Pembaca yang kami muliakan, telah kami sebutkan dalam tulis yang lalu mengenai hukum bersedekap, dan telah kami jelaskan juga bahwa pendapat yang shahih dalam hukum bersedekap adalah WAJIB, dengan dalil perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didalam shalat.
Sekarang akan kami sambung dengan permasalahan yang lain, yaitu :
DIMANA KITA MELETAKKAN TANGAN KANAN DIATAS TANGAN KIRI ?
Para ulama dalam hal ini telah berbeda pendapat :
Madzhab Syafiiyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahullah, mereka mengatakan bahwa keduanya diletakkan diatas dada atau dibawahnya sedikit.
Mereka berdalil dengan hadits Hulb At-Thaiy beliau berkata,
“Aku meihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri diatas dadanya.” (HR. Ahmad : 5/226)
Juga berdalil dengan hadits Wail bin Hujr beliau berkata,
“Aku shalat dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri diatas dadanya.” (HR. Ibnu Huzaimah : 479)
Madzhab Hanafiyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang lainnya, mereka mengatakan : “diletakkan diatas pusar, atau dibawahnya atau diatasnya sedikit.”
Mereka berdalil dengan hadist Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. beliau berkata,
“Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat itu diatas pusar.” (HR. Abu Daud : 756)
Juga mereka berdalil dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
“Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat itu diatas pusar.” (HR. Abu Daud : 758)
Dari dua pendapat diatas, jika kita tinjau dalil yang mereka gunakan, maka semuanya memiliki sisi cacat dalam kesahihannya.
Adapun hadits Hulb At-Thaiy, diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, namun dihukumi oleh ulama ahli hadits dengan MUNKAR. Didalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Qabishah bin HUlb, beliau dihukumi oleh ulama ahli hadits dengan MAJHUL.
Dikarenaka tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Simak bin Harb.
Berkata Al-Imam Ibnul Madini : “MAJHUL. Lihat didalam Tahdzib-Tahdzib dalam tarjamah beliau.”
Adapun Hadist Wail bin Hujr, juga dihukumi oleh ulama dengan MUNKAR. Didalam sanadnya ada Muammal bin Ismail, beliau dihukumi dengan perawi lemah, juga beliau menyelisihi perawi lainnya seperti Abdurrazzaq bin Hammam, Abdullah bin Walid, dan lainnya, dari kalangan ulama ahlil hadits.
Sehingga ulama menghukumi dengan MUNKAR, dikarenakan seorang yang lemah menyelisihi perawi lainnya yang lebih kuat hafalannya.
Bahkan Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
“Dan tidak dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang meletakkan tangan diatas dada kecuali Muammal bin Ismail, sedangkan perawi lainnya semua meriwayatkan hadist tanpa tambahan (diatas dada).” (Lihat I’lamul Muwaqi’in : 3/9)
Dari penjelasan diatas, jelas bahwa semua dalil yang dijadikan dalil untuk mengatakan bahwa kedua tangan diletakan diatas dada, semuanya lemah, dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menghukumi masalah ini.
Adapun dalil yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, juga telah dikritik oleh para ulama ahlul hadits.
Hadits Ali bin Abu Thaid yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dihukumi oleh para ulama dengan DHAIF JIDDAN (lemah sekali), didalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ishaq seorang MATRUK (ditinggalkan), dan Ziyad bin Zaid As Suwaiy seorang yang Majhul (Tidak diketahui biografinya).
Adapun hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daud, didalam sanadnya juga ada seorang rawi yang bernama Abdurrahman bin Iswaq, dihukumi matruk oleh ulama hadits, sehingga haditsnya sangat lemah.
Dengan semua penjelasan diatas, memberikan sebuah kesimpulan bahwa tidak ada satupun hadist yang memberikan petunjuk dimana meletakkan kedua tangan, sehingga dikembalikan kepada apa yang mudah bagi orang yang Shalat.
Semua boleh dilakukan, baik diatas dada, atau diatas perut, pusar dibawahnya sedikit, selama itu adalaha Haiah Mushalli (keadaan orang yang shalat), dan bukan tata cara yang dilarang untuk dilakukan. Ini pendapat yang diambil oleh Al-Imam Ibnul Mundzir, dan Al-Imam At Tirmidzi. Bahkan beiau berkata,
“SEMUANYA DIBOLEHKAN OLEH ULAMA.”
ADAKAH KEADAAN YANG DILARANG ?
Jawabanya ada.
Yaitu, AL IKHTISHAR.
Dalam Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
نهي النبي صلي الله عليه ، سلم آن يصلي مختصرا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang seseorang shalat dengan Ikhtishar.” (HR. Bukhari : 1220 dan Muslim : 545)
Tafsir Al-Ikhtishar :
Ikhtishar adalah meletakkan kedua tangan diatas kedua pinggangnya, yaitu berkacak pinggang. Demikian yang ditafsirkan oleh Al-Imam Ibnu sirin rahimahullah.
Dan ini yang dirajihkan oleh Al-Imam An-Nawawi (Syarh Muslim : 5/36 ) dan Al Hafidz Ibnu Hajar (Al-Fath : 3.107)
Hukum Ikhtishar sendiri adalah haram, tidak sampai membatalkan shalat. Demikian yang dijelaskan oleh Al-Imam Mubarak furi dan Al-Imam Syaraul Haq Abady didalam Aunul Ma’bud : 3/170.
Wallahu A’lam Bishawab
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam