Ketaatanmu Kepada Suamimu Bernilai Ibadah

0

Kadang naluri seorang wanita akan mengatakan, “kenapa diriku harus se letih ini membantu suamiku.”
Terlebih manakala dirinya memiliki latar belakang hidup mewah, selalu dimanja oleh ayah dan ibunya.

Tentunya berat baginya untuk selalu berada dalam tugas sebagai ibu rumah tangga.
Namun bergembiralah, Allah Ta’ala akan membalas pengorbananmu dengan nilai Ibadah dan tentunya surganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا صلت المرأة خَمْسَها، وصامَت شهرها، وحَفظت فرجها، وأطاعت زوجَها، قيل لها: ادخلي الجنةَ من أيّ أبواب الجنة شئت

“Jika seorang wanita menjaga shalatnya, dan berpuasa dibulan Ramadhan, lalu menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, kelak akan dikatakan kepadanya : masuklah engkau kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan.” (HR. Ahmad dengan sanad yang sahih)

Sebuah kisah inspiratif tentang Sayyidah Asma binti Abi bakr radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,

“Aku menikah dengan Zubair bin Awwam, dalam keadaan beliau tidak memiliki harta apapun melainkan unta yang digunakan untuk mengangkut air, dan seekor kuda. Dan kebiasaanku mencari makanan dan minuman untuk kudanya, aku juga mengisi air untuknya serta mengadon tepung, dalam keadaan aku tidak bisa mengadon, karena dahulu yang mengadon tepung untukku adalah tetanggaku dari kalangan Anshar. Dan sudah menjadi kebiasaanku adalah memindahkan biji kurma dari kebun kerumahku dengan jarak sekitar 2/3 farsakh (1 kilo meter) dengan mengangkatnya diatas kepalaku.
Pada suatu hari, ketika aku sedang mengangkat biji kurma diatas kepalaku, aku bertemu dengan rombongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan kepadaku untuk naik diatas unta yang beliau tunggangi sebelumnya, namun aku malu untuk menaikinya, dan aku teringat kecemburuan suamiku (Zubair bin Awwam) sehingga aku menolaknya.
Setelah sampai dirumah, aku ceritakan itu kepada zubair, lalu beliau berkata :
“SUNGGUH, DIRIMU DISAAT MENGANGKAT BEBAN ITU DIATAS KEPALAMU ITU LEBIH BERAT BAGIKU DARI PADA ENGKAU MENAIKI TUNGGANGAN RASULULLAH”
Sampai ayahku (Abu Bakr) mengetahui keadaanku dan memberikan kepadaku seorang pembantu yang mengambil alih tugasku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, seorang wanita terpandang, rela menikah dengan suami yang miskin, bahkan mau melakukan pekerjaan rumahnya membantu suaminya, padahal itu bukan sebuah kebiasaanya sebelum menikah.

Sangat patut untuk diapresiasi dan dicontoh oleh semua wanita yang berstatus istri dari suaminya.
Sisi kehidupan lain dari Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha seorang wanita sebagai putri yang sangat disayangi oleh manusia terbaik dimuka bumi ini yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Disaat menikah dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Fathimah mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas apa yang dilaluinya sebagai seorang istri yang harus membantu pekerjaan suaminya.
Disaat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan sebuah pesan yang itu lebih baik dari pada seorang pembantu, yaitu mengucapkan sebelum tidur malam : Tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34 kali. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebuah konsekuensi tentunya untuk menjadi seorang istri, namun itu adalah lautan pahala jika dirinya bersabar atas itu semua.

Berkata Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah,

“Fathimah ketika meminta kepada ayahnya perihal pembantu, beliau tidak menyuruh suaminya (Ali bin Abi Thalib) untuk memberikan pembantu, atau beliaunya disuruh membantu istrinya, seandainya itu adalah tanggungan suami, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menyediakan pembantu untuk istrinya.” (Lihat Fathul Bari)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah ketika mentafsirkan firman Allah Ta’ala,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Mereka (wanita) yang shalihat, selalu tunduk dan taat, dan menjaga disaat tidak ada suaminya dengan apa yang Allah jaga.” (An-Nisa : 34)

Beliau berkata : “ayat diatas memberikan konsekuensi akan wajibnya seorang istri taat kepada suaminya secara mutlak, baik dalam pelayanan, atau safar bersamanya, atau memberikan dirinya untuknya, atau yang lainnya yang telah dijelaskan didalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat Majmu’ Fatawa : 32/260).

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa selalu menjadi pembantu suami kita dalam ketaatan.

Wallahu A’lam Bishawab

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.