Hargailah Suamimu

0

 

Setiap lelaki yang telah menikah In sya Allah akan muncul sebuah benih tanggung jawab atas biduk rumah tangga yang dilaluinya.

Terlebih disaat suaminya mengenal Arti Islam secara sebenarnya, dengan tidak asal–asalan dalam mencari yang namanya rezeki.

Kadang tawaran menggiurkan namun beresiko Iman terabaikan.

Kadang rela bekerja dengan gaji pas pasan asal membawa keberkahan.

Kadang juga harus pulang dengan tangan kosong dari pada tangan kotor (pekerjaan haram).

 

Sebuah ujian berat bagimu wahai sang Istri ketika dirimu tergoda  untuk membandingkan dengan orang lain. JANGAN ! karena itu akan menjauhkan dari syukur atas sebuah kenikmatan Allah padamu.

 

Namun bahagiakan dia dengan senyumanmu padanya, karena itu ibarat siraman hujan ditengah teriknya musim paceklik.

Hargailah pemberiannya dengan mendoakan kebaikan di setiap rupiah yang dia berikan padamu, benar itu sebuah kewajiban atasnya, namun terimalah dengan kasih cinta.

Dalam sebuah ayat suci Allah memerintahkan dengan tertuju kepada suami kita dengan firmannya :

“Dan perintahkan keluargamu untuk Shalat dan bersabarlah diatasnya “.

Paling sering kita fahami dengan negative.

Suami menyuruh kita untuk menjaga Shalat, kita anggap terlalu berat

Suami menyuruh kita berhijab, kita anggap terlalu berlebihan

Suami menyuruh untuk membaca Al Quran, kita anggap terlalu menekan

Suami menyuruh belajar agama, itu bukan kebebasan.

Seandainya itu hal yang Mubah, tentunya wajib kita lakukan, bagaimana dengan sebuah ketaatan.

Ungkapkan untaian Syukur manakala dengan keinginan suamimu untuk melakukan pekerjaan yang Halal dan Tayyib, walau gaji tak seberapa.

Engkau patut bersyukur atas hal itu, pandangan suamimu terjaga dari melihat fitnah wanita.

Pendengaran suamimu pasti lebih terjaga untuk tidak mendengar hal yang tercela.

Tentunya engkau lebih menyukai hal itu daripada pekerjaan suami yang harus berbaur dengan wanita yang bukan mahramnya.

Dan yang sangat penting disini, manakala suamimu membantu dirimu untuk selalu bersama dengan Ilmu agama,dalam konteks apapun tetap itu sebuah kebahagiaan dan kenikmatan.

 

Terlebih jika membebaskanmu dari semua pekerjaan dan mendorong dirimu untuk belajar dan belajar. Maka nikmat Rabb – Mu manakah yang Engkau dustakan ?

 

Penulis: Ustadz Imam Abu Abdillah

Artikel: http://almisk.or.id

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.