Traveling barangkali sebuah trend zaman now, mubah-mubah saja, namun jika kita tidak menggunakan adab yang telah diajarkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, malah bisa memunculkan petaka, atau malah tidak berkah dan menjadi sia-sia.
Berikut ini adalah beberapa hal yang berkaitan dengan safar, saya kumpulkan dari beberapa referensi, semoga berfaedah untuk semuanya.
SAFAR ITU LETIH DAN BERAT
Dalam Al-Quran dan As-Sunnah telah dinyatakan bahwa safar adalah hal yang berat.
Allah Ta’ala berfirman,
لَوْكَانَعَرَضًاقَرِيبًاوَسَفَرًاقَاصِدًالَاتَّبَعُوكَوَلَكِنْبَعُدَتْعَلَيْهِمُالشُّقَّةُ
“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka”. (QS. At- Taubah: 42)
Al-Imam Abu Ubaid mengatakan bahwa, As-Syuqqah dalam ayat diatas maknanya adalah berjalan ke negeri yang jauh, dan ini juga yang ditafsirkan oleh Al-Jauhary dan Raghib Al-Asfahani.
Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Musa dan Khidir,
فَلَمَّاجَاوَزَاقَالَلِفَتَاهُآتِنَاغَدَاءَنَالَقَدْلَقِينَامِنْسَفَرِنَاهَذَانَصَبًا
“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. (QS. Al-Kahfi: 62)
Makna Nashaba dalam ayat adalah Ta’b (letih) oleh karenanya karena safar adalah perjalanan yang letih, persiapakan bekal yang perlu dalam perjalanan.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,
“Dalam ayat diatas terdapat faedah yang penting yaitu menyiapkan perbekalan ketika akan safar, dan ini menunjukkan bantahan kepada kelompok Sufiyyah yang mereka menelusuri perjalanan yang jauh tanpa bekal, dengan anggapan tawakal kepada Allah Ta’ala. Lihat Nabi Musa seorang yang Allah muliakan, justru menyiapkan bekal ketika melalui perjalanan yang panjang”. (lihat Tafsir Al-Qurthubi dalam ayat yang sama).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Safar itu bagian dari siksa, seorang terhalangi untuk makan, minum dan melampiaskan syahwat”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma)
Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah :
“Maksudnya safar itu memiliki keletihan disebabkan berkendaraan dan berjalan, itu sangat tidak nyaman. (Fathul Bari 3/623)
Maka pastikan saat traveling harus memiliki adab agar dapat pahala.
APAKAH SAFAR MEMILIKI KEUTAMAAN ?
Secara asal, tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan keutamaan safar secara dzatnya.
Datang sebuah riwayat hadist,
“SAAFIRUU TAGHNAMUU (bersafarlah, maka kalian akan mendapatkan keuntungan)”.
Namun hadist diatas dilemahkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ad Dhaifah, 1/277 – 279, dan Faidhul Qadhier Karya Al Munawy : 4/81-82.
Namun para ulama, diantaranya Al-Imam Fairuz Abady menjelaskan beberapa faedah dalam safar, diantaranya :
- Membuka sifat sesungguhnya dari seorang manusia.
- Mampu melihat keadaan manusia dalam status sosial, juga dalam muamalah mereka.
- Menjadi pintu yang mudah baginya untuk introspeksi diri.
- Membiasakan untuk lebih sederhana dalam penampilan.
- Membiasakan susah dan senang dan lainnya.
Berkata Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah,
“Pergilah dari negerimu, karena engkau akan mendapatkan keutamaan yang lima, yaitu meraih kemuliaan dalam menolong orang lain, mendapatkan Ilmu, juga adab yang baik, serta mendapatkan teman dan juga mendapatkan usaha dan perniagaan.”
Wallahua’lam Bishowab
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam