Mau tidak kalau perjalanan kita itu sesuai dengan perjalanan yang sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Tentu dong, bagaimana tidak, para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apapun itu.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disajikan dihadapannya roti dan sayur yang didalamnya ada labu, beliau memakannya dengan lahap sampai di pinggir nampan.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
فلم أزَلْ أُحِبُّ الدُّبَّاء بعدَ يومئذ
“Maka sejak itu aku menyukai dubba (labu).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ingin Tahu Bagaimana Safar Yang Dilakukan Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa safarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada empa tjenis.
- Safar untuk berhijrah.
- Safar untuk berjihad (dan ini yang paling banyak).
- Safar untuk Umrah.
- Safar untuk berhaji.
(Zaadul Maadz:1/462).
Diatas adalah safar yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manakah kita dari safar tersebut?
HUKUM SAFAR (MELAKUKAN PERJALANAN JAUH)
Tidak didapatkan dalil khusus yang mencela atau memuji safar. Maka dikembalikan kepada hukum asal, yaitu mubah. Bisa menjadi wajib, seperti berhaji bagi yang mampu, atau haram bagi yang melakukan safar untuk kemaksiatan, atau menjadi sunnah ketika untuk menuntut ilmu, dan lain sebagainya.
Faedah dari Al-Imam Ibnul Jauzy rahimahullah,
Manusia memiliki enam perjalanan:
- Perjalanannya dari tetesan air mani sampai ketubuh sang Ibu.
- Perjalanannya di rahim sang Ibu.
- Perjalanannya di dunia.
- Perjalanannya di Alam kubur.
- Perjalanannya di Padang Mahsyar.
- Perjalanannya ke Syurga atau Neraka.
(Bisa dilihat didalam kitab Al I’lam karya Al-Imam Ibnul Mulaqqin 4/89)
Mana dari perjalanan diatas yang menjadi perhatian dan planning kita bersama dengan keluarga?
Barokallahufikum
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam