Mengangkat Kedua Tangan Dalam Shalat
Telah kita sebutkan bahwa mengangkat kedua tangan dalam Takbiratul Ikhram adalah wajib, dengan alasan, bahwa itu masuk dalam keumuman perintah untuk shalat sesuai dengan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Begitu juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu melakukan perbuatan tersebut dan tidak pernah ditinggalkan oleh beliau sekalipun, sebagai dalil bahwa perbuatan itu hukumnya wajib. Wallahu A’lam.
Kami akan sambung dengan masalah lainnya Insya Allah.
SEJAJAR APA KEDUA TANGAN SESEORANG DIANGKAT ?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa kedua tangan diangkat sejajar dengan kedua pundak.
Berdalilkan dengan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. beliau berkata,
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan Takbiratul Ihram, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, dan disejajarkan dengan kedua bahunya.” (HR. Bukhari No. 738 dan Muslim No. 390)
Begitu juga dengan hadits Abu Humaid, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (828).
Sebagian ulama yang lain berpendapat sejajar dengan kedua telinga.
Sebagaimana diriwayatkan dari Madzhab Hanafiyyah, dan ini juga dinukil dari Al Imam At-Atsauri, Al-Imam An-Nakha’i, dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad .
Mereka berdalil dengan hadits Malik bin Khuwairist beliau berkata,
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertakbir mengangkat kedua tangannya sejajar daun telinganya.” (HR. Muslim : 402)
Dan juga datang dari hadits Wail bin Hujr yang diriwayatkan oleh Muslim : (No. 401).
Jika melihat dua pendapat diatas dan dalil yang mereka gunakan, maka sesungguhnya perbedaan ini adalah salah satu bentuk perbedaan TANAWWU (yang semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).
Sehingga Al-Imam Ahmad dalam riwayat yang lain mengatakan dengan bolehnya dua duanya. Dan itu yang dipilih oleh Al-Imam Ibnu Qudamah dan Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah.
Berkata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah,
“Dan ulama mengatakan : “boleh dua duanya, dan itu adalah pendapat yang shahih.” (Lihat Al Mufhim : 2/20)
Kesimpulan : BOLEH DIANGKAT SEJAJAR BAHU, DAN BOLEH DIANGKAT SEJAJAR DAUN TELINGA.
TIGA KEADAAN MENGANGKAT KEDUA TANGAN DENGAN TAKBIRATUL IHRAM
Ada tiga kaifiyyah yang semuanya dibolehkan dalam mengangkat kedua tangan disertai dengan Takbiratul Ihram.
- Mengangkat kedua tangan bersamaan dengan Takbiratul Ihram.
Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya sejajar bahu jika memulai membuka shalat.” (HR. Bukhari : 737 dan Muslim : 390)
Dalam riwayat yang lain : “Beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbiratul Ihram.”
- Mengangkat kedua tangan sebelum Takbiratul Ihram.
Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, “bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berdiri untuk shalat, mengangkat kedua tangannya, sehinggga sejajar dengan bahunya, kemudian beliau takbiratul ihram.” (HR. Muslim : 390)
- Bertakbir, kemudian mengangkat kedua tangannya.
Dalilnya adalah hadits Malik bin Khuwairist radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika akan memulai shalat, beliau bertakbir, kemudia mengangkat kedua tangannya. (HR. Muslim : 391)
Faedah :
Tata cara pertama adalah yang dipilih oleh jumhur ulama, sedangkan tata cara kedua adalah yang dipilih oleh Madzhab Hanafiyyah, sedangkan tata cara ketiga, berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah,
“Aku tidak mengetahui ulama yang berpendapat dengan pendapat tersebut sebelumku.”
Kesimpulan :
KETIGA TATA CARA TERSEBUT TELAH SAHIH DARI RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM, MAKA SEMUANYA BOLEH DILAKUKAN, dan yang afdhal adalah dilakukan secara bergantian. Wallahu A’lam Bishawab
APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGANGKAT KEDUA TANGANYA ?
Setelah mengangkat kedua tangannya, maka yang dilakukan adalah BERSEDEKAP.
Bersedekap adalah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didepan dada atau perut.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bersedekap menjadi beberapa pendapat :
Pertama : Pendapat mayoritas ulama, mereka menghukumi SUNNAT, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri.
Mereka berdalilkan keumuman perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya.
Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
“Manusia diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didalam Shalat.” (HR. Bukhari : 740)
Kedua : Madzhab Malikiyyah mereka mengatakan tidak disyariatkan bersedekap dalam shalat.
Dan ini pendapat yang dinisbahkan kepada Al-Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin.
Ketiga : Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berpendapat hukumnya wajib.
Berdalilkan dengan hadits Abdullah bin Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Kami para Nabi, diperitahkan untuk menyegerakan berbuka, dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri ketika shalat.” (HR. At Thabrani dalam Al Aushat : 5/137)
Dan juga hadist Sahl bin Sa’d yang telah disebutkan diatas.
Sisi pendalilannya adalah perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut.
Dan perintah dari beliau memiliki hukum wajib secara asal.
Ditambah lagi kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat untuk bersedekap yang tidak pernah ditinggalkan sekalipun.
Kesimpulannya : Hukum bersedekap dalam shalat adalah wajib. Dan ini yang dirajihkan oleh Al-Imam As-Syaukani dalam Nailul Authar : 2/186 – 189.
Wallahu A’lam Bishawab
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam