Sebagai pelengkap dari adab makan yang telah kita sebutkan dalam kesempatan yang lalu, akan kami sebutkan beberapa adab makan sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam;
- MAKANLAH DENGAN SECUKUPNYA
Nafi’ Maula Abdullah bin Umar bercerita,
“Diantara kebiasaan Abdullah bin Umar, beliau tidak akan makan sampai ditemani oleh orang miskin. Pada suatu hari, aku membawa seseorang makan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, namun dia makan dengan lahap dan banyak.”
Lalu Abdullah bin Umar mengatakan kepadaku,
“Wahai Nafi’ jangan engkau ajak orang ini besok ! karena aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan :
الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
“Seorang mukmin makan dengan satu lambung, dan orang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abdullah bin Umar melarang orang tersebut untuk makan bersamanya lagi disebabkan orang tersebut rakus dalam makan seperti keadaan orang kafir.
Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah,
فَإِنَّمَا قَالَ هَذَا لِأَنَّهُ أَشْبَهَ الْكُفَّارَ وَمَنْ أَشْبَهَ الْكُفَّارَ كُرِهَتْ مُخَالَطَتُهُ لِغَيْرِ حَاجَةٍ أَوْ ضَرُورَةٍ
“Beliau (Abdullah bin Umar) mengatakan demikian, karena orang tersebut menyerupai orang kafir, dan siapa yang menyerupai orang kafir, maka dibenci untuk selalu bersama dengannya tanpa ada kebutuhan yang berarti.” (Syarh Muslim Lin Nawawi)
Lalu apa yang dimaksud dengan hadits diatas ?
Berikut penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah,
وَمَقْصُودُ الْحَدِيثِ التقليل مِنَ الدُّنْيَا وَالْحَثُّ عَلَى الزُّهْدِ فِيهَا وَالْقَنَاعَةُ مَعَ أَنَّ قِلَّةَ الْأَكْلِ مِنْ مَحَاسِنِ أَخْلَاقِ الرجل وكثرة الأكل بضده
“Dan yang dimaksud dengan hadits diatas adalah anjuran untuk sederhana dalam perkara dunia, dan anjuran untuk zuhud didalamnya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah subhanahuwa ta’ala. Dan menunjukkan bahwa sedikit makan termasuk akhlaq yang baik, sebagaimana rakus dalam makan termasuk akhlaq yang buruk.” (Syarh Nawawi Li Sahih Muslim)
- JANGAN MAKAN DENGAN BERSANDAR
Bukan sebuah larangan yang harus ditinggalkan, namun anjuran dari baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dari Abu Juhaifah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا آكُلُ مُتَّكِئًا
“Aku tidak makan sambil bersandar.” (HR. Bukhari)
Maknanya adalah seperti yang dijelaskan oleh Al-Imam As-Shan’ani rahimahullah, beliau berkata,
وَمَعْنَى الْحَدِيثِ إذَا أَكَلْت لَا أَقْعُدُ مُتَّكِئًا كَفِعْلِ مَنْ يُرِيدُ الِاسْتِكْثَارَ مِنْ الْأَكْلِ، وَلَكِنْ آكُلُ بِلُغَةٍ فَيَكُونُ قُعُودِي مُسْتَوْفِزًا
“Makna dari hadits diatas adalah : “jika aku makan, maka aku tidak makan dengan kondisi duduk yang pas, seperti keadaan orang yang ingin makan dengan jumlah yang banyak, tetapi aku makan dengan kondisi yang seperti orang akan beranjak.” (Subulus Salam : 2/233 Syamilah).
Demikian juga yang ditafsirkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dan selainnya dari kalangan ulama.
Namun disana ada sebuah hadits yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan bersandar adalah miring kesebelah kanan atau kiri badannya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ألا أُنَبِّئُكم بأكبر الكبائر؟ ثلاثًا: الإشراك بالله، وعقوق الوالدين، وشهادة الزور – أو قول الزور))، وكان رسول الله – صلَّى الله عليه وسلَّم – مُتَّكِئًا، فجلَس، فما زال يُكرِّرها؛ حتى قلنا: ليتَه سَكَتَ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian dengan dosa besar yang paling besar ? (tiga kali)
berbuat syirik kepada Allah Ta’ala, dan durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian palsu.”
Disaat itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersandar kesamping, lalu beliau duduk. Kemudian beliau selalu mengulanginya dan kami beranggapan : “sungguh seandainya beliau diam.” (HR. Muslim)
Dengan makna bersandar seperti hadits diatas, itulah yang ditafsirkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.
Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam