Adab Safar Sesuai Tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah (Bagian 3)

0

Kadang seseorang terlalu berhati-hati dalam menentukan waktu safar. Boleh saja karena disebabkan kesibukkan dan kadang faktor finansial menjadi penyebab utama. Namun yang terpenting adalah jangan sampai masuk dalam modus Tathayyur.

Apa itu Tathayyur ?

Tathayyur adalah menganggap jelek sebuah nasib dengan apa yang dia lihat atau dia dengar.

Simak berikut ini penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah,

التطير هو التشاؤم وكانوا يتطيرون بالسوانح والبوارح فينفرون الظباء والطيور فإن أخذت ذات اليمين تبركوا به ومضوا في سفرهم وحوائجهم وإن أخذت ذات الشمال رجعوا عن سفرهم وحاجتهم وتشاءموا بها

Tathayyur adalah menganggap jelek nasib. Dahulu mereka (jahiliyyah) mengadu nasib dengan burung Sawanih (nama burung) dan Bawarih lalu mereka mengusir burung itu, jika terbang ke kanan maka pertanda keberkahan dalam perjalanan mereka, dan mereka melanjutkan perjalanan dan kebutuhan mereka, tapi jika burungnya terbang kearah kiri, mereka kembali dari perjalanan itu dan menganggap kecelakaan akan terjadi.” (Syarh Muslim : 5/241)

Namun tathayyur bukan hanya dengan menggunakan burung, tetapi apa saja yang mengembalikan atau melanjutkan dia dalam perjalannya, itulah namanya tathayyur.

Teruslah berjalan dan sandarkanlah nasib kepada Allah semuanya. Dan Allah sebaik-baik tempat bersandar. Tatayyur adalah perbuatan syirik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Tiyarah (Tathayyur) aalah syirik.” (HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

ليس منا من تطير أو تطير له

“Bukan dari bahagian kami yang melakukan tathayyur atau diramalkan nasib untuknya.” (HR. Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albany Dalam Shahih Targhib: 3 / 170)

Ketahuilah bahwa keselamatan perjalanan adalah menjadi rahasia Allah Ta’ala, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan dia lalui dalam perjalanannya, maka tidak ada pengaruh apapun mengadu nasib dalam perjalanan seseorang.

Tidak perlu kita mengatur perjalanan dengan ramalan bintang, atau tebakan paranormal. Mereka tidak mengetahu apapun, yang ada hanyalah syirik kepada Allah Ta’ala.

Status orang yang mengadu nasib dengan burung atau lainnya terbagi menjadi dua :

  1. Jika dia menganggap burung tersebut sebagai penyebab saja, sedangkan yang menentukan semuanya adalah Allah Ta’ala, maka ini dikategorikan dalam syirik kecil.
  2. Tetapi jika dia menganggap bahwa burung tersebut atau lainnya menjadi penentu dalam keselamatan dirinya dari selain Allah Ta’ala, maka ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari keislaman, Wal Iyadzu billah.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan untuk kita agar menyandarkan semuanya kepada Allah Ta’ala.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin

 

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.