Aqidah Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

Bid'ah Sebuah Perkara yang Dibenci

378

AQIDAH AL-IMAM AL-BUKHARI MUHAMMAD BIN ISMAIL rahimahullah

 

Bid’ah dan Bahayanya

 

Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah,

 

وكانوا ينهون عن البدع مما لم يكن عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم، لقوله: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا} [آل عمران: 103] ولقوله: {وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا} [النور: 54]

 

“Dan mereka (ulama) melarang dari perbuatan bid’ah yang tidak ada dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan shahabatnya. dikarenakan Allah Ta’ala berfrman :

“dan berpegang teguhlah kalian diatas tali Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali Imran : 103)

 

Dan firman Allah Ta’ala,

“Dan jika kalian taat kepadanya maka kalian akan mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nur : 54)

 

Penjelasan :

Dalam poin ini Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengingatkan dari sebuah perbuatan yang dinamakan BID’AH. Apakah BID’AH dan benarkah ada yang baik ? perlu kita memahami beberapa penjelasan dibawah ini :

 

Pertama : definisi bid’ah

Para ulama mendefinisikan bid’ah menjadi dua sudut pandang :

  1. Secara bahasa (etimologi), yaitu segala sesuatu yang baru.

Berkata Al-Imam Ibnul Mandzur,

الشيء الذي يكون أولاً

“Sesuatu yang menjadi pertama kali.”

 

Allah Ta’ala berfirman,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah : 117)

 

Artinya Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam keadaan tidak ada yang menciptakan itu semuanya.

Dari definisi diatas, maka bid’ah secara bahasa memiliki jangkauan yang lebih umum dari hanya sekedar didalam perkara agama. Artinya bisa juga masuk dalam perkara dunia dan lain sebagainya.

 

        2. Secara istilah syariat (terminologi)

Bid’ah secara syariat memiliki jangkauan dan definisis yang khusus. Dan yang terbaik yang menjelaskan definisis bid’ah adalah Al-Imam As-Syatiby rahimahullah.

Beliau berkata,

البدعة طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية، يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

“Satu jalan dalam agama yang diciptakan menyamai syariat yang diniatkan dengan menempuhnya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah.” (Al-I’tisham : 1/26/ As Syamilah)

 

Disana ada juga penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam mendefinisikan bid’ah.

Beliau berkata,

وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ

“Bid’ah adalah semua yang menyelishi Al-Kitab dan As-Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf, baik sebuah keyakinan atau suatu amalan ibadah.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346/Asy Syamilah)

 

Maka dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa bid’ah secara makna syar’i adalah apa yang terkandung didalamnya tiga hal :

Pertama           : Perkara yang dibuat-buat/baru.

Kedua              : Didalam perkara agama.

Ketiga              : Dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

 

Catatan :

Pertama : Jika engkau ditanya : “Apakah bid’ah ada yang baik ? atau misalkan pertanyaannya” : “Apakah semua bid’ah sesat ?” maka jawablah dengan pembagian makna bid’ah diatas.

Jika yang dimaksud dengan bid’ah adalah secara bahasa, maka benar ada bid’ah yang baik dan ada bid’ah yang buruk. Ada yang haram, bahkan ada bid’ah yang mubah. Kenapa demikian ?

Disebabkan karena bid’ah secara etimologi tidak ada klasifikasi khusus hanya dalam ibadah, melainkan memiliki makna yang umum.

Contoh bid’ah yang haram : Narkoba dengan segala jenisnya.

Contoh bid’ah yang mubah : menggunakan bbsensi dengan sidik jari dalam pekerjaan. Dan lain sebagainya, itu semuanya tidak ada dizaman sebelumnya sehingga dihukumi bid’ah makna bahasa (lughatan).

Namun jika yang dimaksud dengan bid’ah adalah makna istilahy (terminology) maka sangat jelas konsep yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didalam hadits yang sahih :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتُ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dan hati-hati kalian dari perkara yang baru, karena semua perkara yang baru dinamakan bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad yang sahih)

Dan makna inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah.

 

Kedua : Kesalah pahaman dalam memahami perincian makna bid’ah diatas akan membuahkan kekeliruan dalam menyikapi bid’ah. Tidak heran ada orang yang antipati dengan penyebutan bid’ah, bahkan ada yang menuduh keliru terhadap mereka yang menggunakan alat komunikasi dan transportasi, bahwa mereka menggunakan sesuatu yang bid’ah, “kan katanya semua bid’ah sesat.”

Maka pahami penjelasan diatas, barokallahu fikum

*) Bersambung bagian kedua

 

Wallahu A’lam Bishawab

 

Penulis : Ustadz Abu Abdillah Imam

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasi.